RSS

Antologi Cerpen Fiksimini: Rahasia Rindu

Rahasia Rindu? Apaan sih itu?

Rahasia Rindu adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi karya dari 17 penulis amatir, yaitu saya dan teman-teman dari komunitas fiksimini. Semua cerpennya dikembangkan dari fiksimini yang pernah di-retweet oleh akun @fiksimini.

“Buku ini adalah kegilaan dari pikiran-pikiran cerdas anak-anak muda yang gelisah. Penuh pemberontakan. Mereka mengemas cerpen yang sebelumnya ditulis dalam format fiksimini, lalu dikembangkan secara kreatif menjadi sebuah cerita pendek yang padat dan berisi. Barangkali akan ada kontroversi atas keliaran pikiran-pikiran yang melampaui norma umum. Pantas untuk dibaca.” -Joni Ariadinata (redaktur majalah Horison)

Saya, sebagai penulis maupun pembaca, merekomendasikan buku ini. Ceritanya seru, penuh twist, dan melampaui akal sehat dengan cara yang menarik. Buat teman-teman yang pernah membaca cerita saya di blog ini ataupun di notes facebook saya mungkin tahu Kejutan! dan Tak Sabar Bertemu Denganmu yang dimuat di buku ini. Bayangkan 28 cerita lainnya dengan kegilaan yang sama, bahkan lebih!

Sudah mulai penasaran, kan? Ayo pesan Rahasia Rindu sekarang juga! Harganya cuma Rp36.300,-. Sekarang baru bisa dibeli secara online melalui website LeutikaPrio. Bisa juga pesan melalui email ke nuzula.zula@gmail.com ataupun melalui Twitter (@zulazula dan @bbintangb).

Untuk pemesanan mencapai jumlah harga tertentu bisa bebas ongkos kirim loh!

Yuk, dipesan yuk, dipesan!

 
Leave a comment

Posted by on November 12, 2011 in Uncategorized

 

Menyerah pada Ciummu

Based on Emmy Emanyza Maharani’s poem: Sebuah Percakapan Kusut.

***

Ketika logika dan hati begitu bertentangan, mana yang harus kudengar?

Cangkir teh ketigaku baru saja kosong. Kamu belum juga datang. Sudah lewat tiga puluh lima menit dari waktu yang kita janjikan, dan sudah hampir dua jam aku duduk di sini. Sengaja aku datang terlalu cepat, kuniatkan untuk mempersiapkan diri. Bodohnya aku lupa bahwa ini hari Sabtu, dan tiap Sabtu kamu akan datang terlambat. Tiap Sabtu dialah prioritasmu. Tapi kali ini aku bersyukur akan keterlambatanmu, karena hingga saat ini aku belum tahu apa yang akan kukatakan padamu.

Masih kuingat Sabtu pertama kamu menolak bertemu denganku, setahun yang lalu.

“Malam ini aku nggak bisa. Dan setiap Sabtu malam selanjutnya.”

“Loh, kenapa?”

“Aku harus menemani Jessica seharian.”

“Maksud kamu, Jessica yang kemarin kamu ceritakan? Yang mau dijodohkan denganmu?”

Kamu diam, dan aku tahu itu berarti iya.

“Bukannya kamu sudah menolak perjodohannya?”

Kamu masih diam, dan aku tahu apa artinya.

“Kamu bohong!”

“Siti, aku sayang kamu. Tapi tolong mengerti, aku nggak bisa menolak permintaan orang tuaku yang ini.”

“Orang tuamu kan tahu tentang kita, Josh!”

Lagi-lagi kamu diam dan lagi-lagi aku mengerti, Josh. Kita terlalu berbeda. Kamu putih aku hitam, rumahmu besar rumahku sederhana, kamu ke gereja aku ke mesjid. Orang tuamu tidak akan pernah merestui kita. Aku mengerti, Josh. Tapi mengertikah kamu tentang apa yang kurasakan? Seperti balon yang kehilangan udaranya, jatuh, dan terinjak-injak. Seribu kali lipat dari itu, Josh.

Aku terisak dan kamu menghela napas.

“Siti, aku sayang kamu. Aku nggak akan ninggalin kamu demi Jessica! Perjodohan ini murni kewajiban. Kita jalani dulu kayak begini yah, sambil perlahan meluluhkan hati papa-mamaku sampai mereka bisa menerima kamu. Jessica tahu kok, tentang kamu.”

Aku berusaha mengerti, Josh. Selama ini aku berusaha mengerti. Tapi seiring waktu aku mulai menyadari bahwa perasaan Jessica padamu bukan kewajiban. Dia menikmati setiap Sabtu malam bersamamu. Dan aku, aku hanyalah wanita biasa yang tidak punya hati ekstra kuat untuk berbagi cintamu dengannya.

Kamu dan Jessica menapaki jalan bebas hambatan. Sementara kita, ke mana cinta kita akan pergi, Josh? Berjalan tanpa arah bukanlah kemampuan terbaikku, dan aku mulai lelah. Sesungguhnya aku tahu ke mana kita akan menuju. Berhenti, Josh, berhenti di tempat. Karena sudah sejauh ini dan orang tuamu masih belum bisa menerimaku, malah semakin menyukai Jessica.

Maka malam ini aku harus mengambil keputusan. Logikaku bilang berpisah adalah keputusan terbaik. Cinta kita tak akan ke mana-mana. Tapi, apakah hatiku siap kehilanganmu?

***

“Siti.” Seseorang mengecupku dari belakang. Kamu.

“Hai Josh.” Aku membalas kecupanmu.

“Maaf ya, lagi-lagi aku terlambat.” Kamu menarik kursi dan duduk di hadapanku. Matamu menatap lurus ke mataku. Kamu tahu Josh, aku benci ketika seseorang menatap mataku terlalu lama. Tapi pada tatapanmu aku menyerah. Silakan, pandang aku sepuasnya.

“Aku ngerti kok. Ini kan hari Sabtu. Harusnya kamu lagi sama Jes—“

“Bisa nggak, kita nggak ngomongin dia?” kamu memotong ucapanku.

“Iya, maaf. Harusnya aku nggak janjian ketemu sama kamu hari ini. Tapi, ada yang harus aku omongin.”

“Iya, mau ngomong apa?”

“Tentang kelanjutan aku dan kamu.”

Kamu menghela napas. “Oke. Kamu mau aku gimana?”

“Nggg….” Aku belum memutuskan.

Pergi sana. Cari cinta yang lain. Aku nggak bisa kasih kamu kebahagiaan. Aku nggak bisa menjadi apa yang orang tua kamu inginkan. Logikaku berbisik.

Putuskan pertunanganmu dengannya. Lalu kamu harus tetap di situ, di dalam jarak pandang mataku, pada jangkauan tangan dimana aku dapat dengan mudah meraih genggamanmu. Jangan beranjak meski hanya satu inchi, karena aku tahu pasti, aku pasti mencari. Kali ini hatiku.

Ketika logika dan hati begitu bertentangan, mana yang harus kudengar?

“Kamu….”

Menjauhlah. Jadikan semua ini lebih mudah. Apapun bisa pudar dan hilang diurai waktu, pun dengan cinta. Itu logika yang bicara.

Selalu saja ada kebutuhan yang tidak pernah bisa tercukupi. Tatapanmu, suaramu, senyumanmu, sentuhanmu. Ingin ku isi ruang imaji kosong dengan segala hal tentang keberadaanmu. Itu hati yang bicara.

“Siti? Kamu mau aku gimana? Kamu mau kita gimana?”

Pergi. Yakinlah bahwa masih ada orang lain yang berdiri di belakangku. Perempuan yang selalu kamu temukan saat kita saling berdekapan. Aku tahu dia di sana, menunggumu dengan setia. Itu logika.

Hatiku berhenti bicara. Maka kuputuskan logika yang menang. Namun tepat ketika aku akan bicara, aku merasakannya. Hatiku ada di sana, terluka tanpa kata. Ia mencoba untuk bicara, tapi yang keluar hanya air mata.

“Siti, kamu kenapa?” Kamu mengusap wajahku.

“Aku—“

Belum selesai aku bicara, kamu merengkuh wajahku, dan begitu kusadari bibirku telah terkunci oleh bibirmu. Ciummu, seperti sengatan listrik, menjalar ke seluruh tubuh. Kemudian logika maupun hati berhenti bicara. Atau mungkin aku yang tak mampu mendengar karena saat ini seluruh indraku hanya dapat merasakan bibirmu.

“Aku harus bicara,” kataku setelah akhirnya berhasil melepaskan diri dari bibirmu.

“Apa?” tanyamu sambil berusaha meraih bibirku lagi.

“Aku… kangen kamu.“ Lalu kupasrahkan bibirku padamu.

Joshua, aku harus bicara. Tentang aku dan kamu, tentang kita. Aku tak kuat berbagi hati, Josh. Tapi entah bagaimana bibirmu menyampaikan hatimu hanya untukku. Aku lelah berjalan tanpa arah, Josh. Tapi dalam ciummu aku tak kenal arah, juga tak kenal lelah. Cinta kita tak akan ke mana-mana, Josh. Tapi saat ini aku tak peduli! Kamu curang Josh, lagi-lagi melumpuhkan seluruh keberadaanku dengan ciummu. Maka mungkin bukan malam ini. Mungkin besok, lusa, atau suatu saat nanti aku bicara. Dan malam ini, biarlah aku menyerah pada ciummu.

Antara logika dan hati, aku memilih ciummu.

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in cerpen

 

Malam Minggu yang (Tidak) Galau

“Aku benci malam Minggu.”

Ucapanmu memecah keheningan. Wajahmu terlihat seperti H-2 menstruasi. Bete setengah mati. Malam ini cuma kita berdua di basecamp. Yang lain absen kumpul. Tidak perlu dijelaskan kenapa. Sudah jelas karena ini malam Minggu kan.

“Kenapa?”

“Malam Minggu bikin galaaaaaaauuuuuu!”

“Hahahaha!” Aku terbahak melihat ekspresimu yang kini seperti Paman Gober kehilangan uang seratus rupiah.

“Eh, kita bikin kelompok Prajurit Jomblo aja, yuk!”

“Loh, kok ngajak aku?”

“Lah, kamu tuh punya pacar? Kirain jomblo! Ah, merana sendiri deh aku malam ini!” Kamu menepuk keningmu.

“Hahahahahaha!” tawaku makin keras. “Aku jomblo sih. Tapi nggak merana kayak kamu! Dasar ababil.”

“Huh, biarin. Labil karena cinta itu halal kok. Itu tandanya kita masih punya hati.”

“Oooh, jadi labil karena cinta nih? Emang siapa sih cintanya?” godaku.

“Ih, rese deh!” Kamu membuang muka, pura-pura kesal. Padahal aku tahu, kamu tersipu kan. Jadi memang ada nih, cowok yang kamu sukai?

“Eh, ngomong-ngomong kamu berniat ikut audisi Idola Indonesia 2011?” Kamu mengalihkan pembicaraan.

“Aku? Hahaha. Nggak lah, aku kasian sama yang lain, kalau aku ikut mereka nggak mungkin menang. Kasih kesempatan lah buat yang lain.”

“Preeeet! Kamu kan buta nada.” Kamu melempar bantal ke arahku. Nyaris kena.

“Ya lagian udah tahu pake nanya, Mbak! Kenapa, kamu mau ikut?”

“Hmmm….”

“Lah dia ragu-ragu segala. Ikut aja, suara kamu kan bagus. Bagus buat ngusir kecoak!”

“Ih, rese kan!” Tanganmu berniat meraih bantal untuk dilempar ke arahku. Kamu lupa tadi bantalnya sudah kamu lempar. Aku mengangkat bantal sambil menjulur-julurkan lidah kepadamu. Benar-benar gerakan yang salah. Kini aku hampir nggak bisa menahan diri buat mencubit pipimu yang sedang cemberut itu.

“Tapi serius deh. Ikut aja. Baru audisi ini, nggak ada ruginya. Suaramu asyik kok.”

“Ikut itu tujuannya buat menang. Ngapain ikut kalau nggak punya ambisi. Rugi melakukan hal yang sia-sia.”

“Loh, kamu memang pengin menang kan? Aku sih percaya aja kamu bisa.”

“Nggak mungkin! Kemungkinannya cuma satu dari satu juta orang.”

“Hahaha. Gimana kamu yakin kalau kamu bukan satu orang itu? Lagipula harusnya kamu nggak pesimis melawan satu juta orang doang.”

Kamu menoleh dan menatapku.

“Cuma satu juta orang loh. Padahal kamu sudah berhasil mengalahkan ENAM MILYAR orang.”

“Maksud kamu?”

“Dari enam milyar penduduk dunia ini, cuma kamu satu orang yang berhasil merebut hatiku.”

 

***

Bandung,

Minggu, 29 Mei 2011

00:49 WIB

 
2 Comments

Posted by on August 11, 2011 in cerpen, random

 

Kasus Teraneh Detektif Brown

Sebagai seorang detektif hebat dan terkenal, ribuan permohonan kasus telah masuk ke mejaku. Mulai dari pembunuhan berantai, pencurian barang bersejarah, hingga pembunuhan di ruang tertutup telah berhasil kupecahkan. Kasus tersulit yang pernah kuhadapi adalah perampokan museum, di mana pelakunya—yang ternyata orang dalam—berhasil membuat trik psikologis dengan membuat dirinya seolah-olah adalah korban kekerasan perampok. Namun dari semua kasus yang pernah kuhadapi, tidak ada yang lebih aneh dari kasus itu. Permohonan dari seorang wanita cantik.

 

***

 

“Selamat siang. Detektif Brown?”

Kuletakkan koran yang sedang kubaca, menoleh mencari pemilik suara sedingin es tadi. Seorang wanita, dengan wajah cantik yang juga sedingin es.

“Ya, saya Brown.”

Wanita itu hanya menatapku hingga akhirnya kupersilakan duduk.

“Ada keperluan apa Nona datang kemari?”

“Nama saya Cynthia. Saya ke sini mau…,” ada jeda pada ucapannya, “meminta Anda mencari sesuatu yang hilang.”

“Sesuatu yang hilang?” Sungguh tidak dapat kupercaya! Bagaimana bisa wanita ini datang kepada detektif paling terkenal hanya untuk mencari barang hilang?

“Ya, benda itu hilang sekitar lima tahun lalu.”

“Wah, sudah lama juga ya….”

“Benda itu sangat berharga buat saya. Karena itulah saya menghubungi Anda, detektif terbaik di negeri ini. Hal terbaik harus diserahkan kepada orang terbaik juga, bukan?”

Aku terdiam lama. Wanita cantik itu menatapku cemas sambil menggerak-gerakkan kakinya. Gelisah.

“Seberapa berharga benda itu untuk Anda?”

Wanita itu menghela napas.

“Sangat, sangat berharga. Seharga jiwa saya,” katanya mantap.

Well, kalau begitu tidak ada pilihan buat saya selain menemukannya, bukan?”

Dalam sekejap ekspresi dingin wanita itu mencair. Ia tersenyum, begitu hangat dan menawan. Benda macam apa pula yang bisa lebih berharga dari senyumannya?

“Kalau begitu tolong jelaskan, kapan dan di mana terakhir kali Anda melihat benda itu?”

“Lima tahun lalu. Waktu itu saya memberikannya pada seorang pria.”

“Anda memberikannya?”

“Memberikannya, menitipkannya, ya semacam itulah.”

“Memangnya pria itu sudah tidak menyimpannya?”

“Saya rasa dia sudah membuangnya. Tapi entahlah, saya tidak yakin.”

“Kenapa tidak Anda tanyakan saja pada pria itu?”

Wanita itu menghela napas lagi. Wajahnya kembali dingin.

“Pria itu juga menghilang. Lima tahun lalu. Setelah saya berikan benda itu padanya.”

“Dia membawanya kabur? Mungkin dia menjualnya. Benda itu kan berharga.”

Wanita itu menggeleng lesu.

“Benda itu memang berharga, tapi tidak bisa dijual.”

“Kalau begitu tolong deskripsikan benda yang Anda cari.”

“Hmm… hangat dan bersinar. Oh ya, dan juga penuh tambalan bekas luka.”

“Bersinar? Bersinar seperti permata?”

“Bukan. Sinarnya jauh lebih indah dari permata. Ah, tapi kalau sekarang mungkin sudah membusuk.”

“Errr… saya tidak mengerti. Bisa lebih jelas, benda apa sebenarnya yang Anda cari?”

“Hatiku.”

 

***

 

Aku tersenyum mengingat kasus itu. Sungguh absurd. Di suatu siang yang panas, seorang wanita dingin memintaku mencari hatinya yang telah lima tahun hilang. Meskipun begitu bukan Brown namanya jika tidak bisa memecahkan kasus seperti itu. Maka esok harinya, aku dan Cynthia melakukan pencarian.

Kami berdua mencari informasi dan mencari petunjuk, berkeliling negeri. Akhirnya setelah berbulan-bulan pencarian, kami menemukan benda itu. Hati Cynthia. Masih bersinar, meskipun terlihat banyak luka yang menganga. Rupanya pria yang menghilang dulu masih menyimpannya, selalu membawanya. Berkali-kali ia berniat menambal luka yang ada, namun selalu gagal.

Akhirnya kasus terselesaikan dengan baik. Waktu itu, kulihat senyum hangat Cynthia untuk kedua kalinya.

Sudah kubilang aku ini detektif hebat. Kasus macam apapun bisa kuselesaikan. Tapi ada yang janggal pada kasus itu. Setelah hati Cynthia berhasil ditemukan, malah giliran hatiku yang hilang. Kira-kira hilang di mana ya?

 
4 Comments

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 

Aku Bukan Pelangi, Kamu Bukan Langit

 

Aku mencintaimu seperti awan, bukan pelangi. Bukan seperti pelangi yang muncul setelah hujan, karena spektrum dan pembiasan cahaya. Tidak. Cintaku tidak serumit tujuh warna pelangi, ia sesederhana awan.

Tapi tentu saja, seperti kebanyakan orang lainnya, kamu lebih memilih pelangi daripada awan. Masih kuingat jelas percakapan kita, sejelas aku mengingat aromamu malam itu.

“Kurasa kita nggak cocok,” katamu akhirnya setelah keheningan panjang yang kita lalui sejak kamu datang.

“Maksudmu?” Aku tidak bodoh. Aku tahu arah pembicaraanmu, hanya nggak mau menerimanya.

“Aku… nggak lagi merasa jatuh cinta kepadamu. Nggak ada lagi debaran yang dulu. Kurasa kamu juga merasa begitu.”

Aku terdiam, lama. Tidak jatuh cinta kepadamu? Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperdengarkan detak jantungku setiap bersamamu. Tidak berdebar-debar seperti orang yang dimabuk cinta, ini debaran jantung yang merasa nyaman mencintai.

Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperlihatkan semilir angin di hatiku. Bukan bunga-bunga seperti orang yang kasmaran, di hatiku berdesir angin yang membawa keteduhan. Setiap bersamamu.

Kalau saja bisa, ingin kukatakan padamu. Aku tidak jatuh cinta padamu, aku mantap mencintaimu! Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya saat aku tahu akan berujung ke mana percakapan ini. Aku hanya bisa menggeleng merespon perkataanmu.

“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu merasa nyaman?”

Giliran kamu yang menggeleng. “Kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Aku rasa kita sebaiknya…,” kamu berhenti sejenak dan mengambil napas, “kita sebaiknya putus.”

Putus. Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperlihatkan serpihan hatiku padamu.

“Kenapa? Ini gara-gara dia yang kulihat bersamamu kemarin, kan?” Ya, kemarin aku melihatmu bersamanya. Si pelangi. Begitu menawan dan memesona, begitu mencuri perhatian.

Kamu hendak menjawab, namun segera mengunci mulutmu sebelum keluar sepatah kata pun.

Kamu nggak perlu menjawabnya, karena aku tahu kamu lebih menyukai pelangi daripada awan. Pelangi yang berwarna-warni, enak dilihat, aduhai, dan dipuja orang banyak. Tentu saja kamu lebih memilih dia si pelangi daripada aku si awan.

Tentu saja kamu mencari debaran itu, gembira yang bergelora ketika melihat pelangi. Sementara yang bisa ditawarkan oleh awan hanyalah keteduhan. Bukan itu yang kamu cari.

“Kalau begitu kita putus,” kataku sambil menahan sakit di tenggorokan. Seperti ada yang mencubitku di sana. Rasa yang selalu muncul tiap kali aku menahan tangis.

Kalau saja bisa, ingin rasanya kutunjukkan ruang kosong di tubuhku. Dulu ada hati di sana.

***

Hari ini, beberapa bulan setelah malam itu, beberapa bulan setelah kamu dan si pelangi jalan bersama, kamu meneleponku.

“Halo?” Masih suaramu yang dulu. Tiba-tiba saja rasa kangen yang luar biasa memenuhi rongga dadaku. Ya, rongga dadaku. Dulu sih, ada hati di sana.

“Halo juga. Ini kamu kan?” tanyaku. Kamu tertawa.

“Hahaha. Kamu? Kamu siapa? Kamu kan bisa berarti siapa saja.”

“Ya, tapi aku tahu kalau ini pasti kamu. Kamu ya kamu!” kataku. Aku merasakannya, kamu tersenyum di seberang sana.

“Kamu apa kabar?”

“Hahaha. Masih saja suka berbasa-basi. Ada apa sih?”

“Iiih, aku serius pengin tahu kabar kamu, tahu!” protesmu. “Tapi yaaah, aku menelepon memang ada maksud lain.”

Hening sejenak. Aku menunggumu berbicara. Firasatku mengatakan ini tentang si pelangi.

“Aku… kangen kamu.”

JEGER! Seperti disambar petir di siang bolong. Kangen padaku? Ada apa? Bagaimana dengan si pelangi?

“Hah?” Hanya itu yang tercetus dari mulutku.

“Kok ‘hah’ sih? Aku baru saja bilang kangen kamu, tahu! Dasar aneh.”

“Setelah berbulan-bulan menghilang, tiba-tiba kamu menelepon dan bilang kangen padaku? Kamu yang aneh!” Aku tahu kamu bercanda. Tapi sebal rasanya disebut aneh olehmu.

“Hahaha iya juga ya. Tapi aku memang kangen sama kamu. Sejak berhari-hari yang lalu. Kutahan mati-matian karena kupikir kamu… benci padaku. Tapi hari ini kuputuskan untuk meneleponmu. Aku nggak tahan lagi, terlalu kangen kamu.”

“Bagaimana dengan dia… pacarmu?”

“Sudah putus,” jawabmu mantap.

“Putus? Ada apa? Kupikir kamu bahagia bersamanya. Kupikir akhirnya kamu mendapatkan debaran itu lagi.”

“Ya, waktu bersamanya aku merasa lebih bahagia dari siapapun juga. Tapi dia nggak selalu ada untukku, aku nggak selalu bisa bersamanya.”

Tentu saja, karena dia itu pelangi! Pelangi tidak selalu ada!

“Dan belakangan ini kusadari, bukan debaran yang kucari. Debaran hanya untuk mereka yang dimabuk cinta. Aku tidak butuh mabuk, aku butuh cinta yang nyaman. Seperti saat bersamamu dulu.”

Tentu saja, karena aku itu awan!

“Aku ingin kembali bersamamu,” katamu lagi, “aku meneleponmu untuk mengatakan ini.”

Aku tersenyum miris. Tidak kuduga kamu meninggalkan pelangi demi awan.

“Aku….” Aku menghela napas dan menghembuskannya kuat-kuat. “Maaf, aku nggak bisa kembali bersamamu.”

“Kenapa? Kamu sudah punya pacar baru?” tanyamu. Aku menggeleng kuat-kuat. Lupa kalau kamu nggak bisa melihatku.

“Bukan. Bukan karena itu.”

“Lantas kenapa?”

Aku hanya diam. Lama sekali hingga kamu memutuskan bahwa keputusanku sudah bulat, dan kamu harus menyerah.

“Ah, ya. Tentu saja kamu nggak mencintaiku lagi setelah yang kuperbuat padamu. Kalau begitu, sampai nanti. Aku menyayangimu.”

Kamu menutup telepon.

Yang kamu tidak tahu, debaran hatiku masih sama seperti yang dulu. Desiran angin itu masih ada di hatiku—atau di rongga kosong tempat dulu hatiku berada. Aku masih mencintaimu.

Tapi kurasa kamu bukan langit tempat awan seharusnya berada. Kamu mungkin pekat malam yang menutupi keindahan awan, atau kamu mungkin matahari yang tertutupi awan. Entahlah. Yang kutahu pasti sejak malam itu, bukan kamu tempat hatiku seharusnya berlabuh. Meskipun kini aku masih mencintaimu.

 
2 Comments

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 

Kejutan!

Deleted!

Kenapa dihapus? Karena cerita ini dimuat di buku Antologi Cerpen Fiksimini: Rahasia Rindu!

Rahasia Rindu adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi karya dari 17 penulis amatir, yaitu saya dan teman-teman dari komunitas fiksimini. Semua cerpennya dikembangkan dari fiksimini yang pernah di-retweet oleh akun @fiksimini.

“Buku ini adalah kegilaan dari pikiran-pikiran cerdas anak-anak muda yang gelisah. Penuh pemberontakan. Mereka mengemas cerpen yang sebelumnya ditulis dalam format fiksimini, lalu dikembangkan secara kreatif menjadi sebuah cerita pendek yang padat dan berisi. Barangkali akan ada kontroversi atas keliaran pikiran-pikiran yang melampaui norma umum. Pantas untuk dibaca.” -Joni Ariadinata (redaktur majalah Horison)

Saya, sebagai penulis maupun pembaca, merekomendasikan buku ini. Ceritanya seru, penuh twist, dan melampaui akal sehat dengan cara yang menarik. Buat teman-teman yang pernah membaca cerita saya di blog ini ataupun di notes facebook saya mungkin tahu Kejutan! dan Tak Sabar Bertemu Denganmu yang dimuat di buku ini. Bayangkan 28 cerita lainnya dengan kegilaan yang sama, bahkan lebih!

Sudah mulai penasaran, kan? Ayo pesan Rahasia Rindu sekarang juga! Harganya cuma Rp36.300,-. Sekarang baru bisa dibeli secara online melalui website LeutikaPrio. Bisa juga pesan melalui email ke nuzula.zula@gmail.com ataupun melalui Twitter (@zulazula dan @bbintangb).

Untuk pemesanan mencapai jumlah harga tertentu bisa bebas ongkos kirim loh!

Yuk, dipesan yuk, dipesan!

 
1 Comment

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 

Tak Sabar Bertemu Denganmu

Deleted!

Kenapa dihapus? Karena cerita ini dimuat di buku Antologi Cerpen Fiksimini: Rahasia Rindu!

Rahasia Rindu adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi karya dari 17 penulis amatir, yaitu saya dan teman-teman dari komunitas fiksimini. Semua cerpennya dikembangkan dari fiksimini yang pernah di-retweet oleh akun @fiksimini.

“Buku ini adalah kegilaan dari pikiran-pikiran cerdas anak-anak muda yang gelisah. Penuh pemberontakan. Mereka mengemas cerpen yang sebelumnya ditulis dalam format fiksimini, lalu dikembangkan secara kreatif menjadi sebuah cerita pendek yang padat dan berisi. Barangkali akan ada kontroversi atas keliaran pikiran-pikiran yang melampaui norma umum. Pantas untuk dibaca.” -Joni Ariadinata (redaktur majalah Horison)

Saya, sebagai penulis maupun pembaca, merekomendasikan buku ini. Ceritanya seru, penuh twist, dan melampaui akal sehat dengan cara yang menarik. Buat teman-teman yang pernah membaca cerita saya di blog ini ataupun di notes facebook saya mungkin tahu Kejutan! dan Tak Sabar Bertemu Denganmu yang dimuat di buku ini. Bayangkan 28 cerita lainnya dengan kegilaan yang sama, bahkan lebih!

Sudah mulai penasaran, kan? Ayo pesan Rahasia Rindu sekarang juga! Harganya cuma Rp36.300,-. Sekarang baru bisa dibeli secara online melalui website LeutikaPrio. Bisa juga pesan melalui email ke nuzula.zula@gmail.com ataupun melalui Twitter (@zulazula dan @bbintangb).

Untuk pemesanan mencapai jumlah harga tertentu bisa bebas ongkos kirim loh!

Yuk, dipesan yuk, dipesan!


 
3 Comments

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 

Keheningan yang Memesona

Hujan rintik-rintik. Aku duduk di teras menyesap kopi yang sudah dingin. Sudah satu jam aku duduk di sini. Kupejamkan mata, menikmati hawa dingin dan musik alam. Langit mengucapkan salam perpisahan. Ini musikku, pengantar pergiku.

Kulirik ruang tamu, melihat koper kulit hitam yang bertengger di dinding putih. Kuamati seluruh ruangannya, mungkin untuk terakhir kali.

Aroma kopi dingin membawaku pada tahun-tahun yang lalu. Kami yang memegang buku di tangan masing-masing, seakan sibuk membaca, ditemani hujan yang seringkali datang. Kami yang berkutat dengan pikiran masing-masing, mencari kata untuk diucapkan. Buntu. Akhirnya hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.

Entah sejak kapan keheningan itu pecah. Kami mulai bicara. Lebih dari itu, kami mulai berteriak. Saling memaki, mengalahkan suara hujan. Darah mendidih di kepala, tak juga mereda melihat air matanya.

Dia yang pertama berhenti bicara. Dia yang berhenti duduk membaca di teras. Mungkin muak pada hujan, atau pada keributan, atau padaku. Sejak itu aku selalu duduk sendiri, masih ditemani secangkir kopi dan keheningan. Kadang-kadang buku. Tapi kali ini keheningan yang sepi. Pesonanya sudah menguap. Pesonanya sudah muak padaku.

Kami masih di sana, di rumah yang sama, cuma teras yang tak kami bagi. Entah kenapa kami bertahan. Entah apa yang dia tunggu. Entah apa maksud lirikannya padaku setiap pagi. Entah apa maksud bibirnya yang membuka, lalu mengatup tanpa sempat bersuara. Entah kenapa aku bergeming.

Pernah suatu pagi ia tersenyum kecil, membuatku seperti dihujani ribuan mawar. Manis, namun menusuk. Betapa ia masih mau tersenyum padaku. Aku yang bodoh hanya bisa terpaku, tenggelam dalam pikiran sendiri, lalu melewatkan satu kesempatan itu. Kesempatan terakhirku kelihatannya, untuk mengembalikan keheningan penuh pesona yang diam-diam aku rindukan.

Kusesap lagi sisa-sisa kopiku. Hujan bertambah deras, memberiku sedikit waktu tambahan untuk duduk di sini, menikmati hal-hal yang tak pernah kupedulikan selama ini. Betapa indah segala bunga-bungaan yang ia rawat di halaman, betapa banyak buah-buah jambu yang mulai matang. Ah, dulu kami sering membuat rujak dari jambu di pohon itu.

Kulihat barisan semut mengangkat serpihan makanan di lantai. Ada seekor yang terpisah, hanya bisa diam. Hahaha, seperti aku. Aku tersenyum pahit. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah diamku, kebodohanku, yang begitu kusadari sudah terlalu terlambat untuk mengubahnya. Tapi aku telah berubah, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti diam. Kusesap kopiku, sesapan terakhir.

Lalu entah bagaimana muncullah dia, dengan segala pesonanya yang masih bisa membuatku terpaku sejenak. Dia duduk di sana, di kursinya, yang telah terbiasa kesepian sejak berwaktu-waktu yang lalu.

Tekadku menguap. Aku hanya bisa terdiam. Lalu aku mendongak dan langit begitu cerah, hujan telah berhenti. Langit tersenyum padaku. Tak begitu indah dibanding senyuman waktu itu, senyuman kecil yang aku lewatkan. Kali ini tak ada lagi yang boleh aku lewatkan.

“Aku merindukannya. Saat kita berdua, hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.”

Aku menunduk sewaktu mengucapkannya. Tapi ada keinginan yang mendesak untuk melihat wajahnya, melihat… sesuatu.

Dan di sanalah yang kucari. Sebuah senyuman yang meruntuhkan benteng pertahananku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, lalu kuberikan senyuman terbaikku padanya. Sungguh rasanya seperti melepas berton-ton beban dari pundak. Semua penyesalanku seakan menguap.

Setelah itu kami hanya diam, seperti dulu, berkutat dengan pikiran masing-masing. Kali ini kami tidak mencari kata untuk diucapkan. Hanya menikmati keheningan terakhir kami, keheningan yang memesona.

Aku tahu, sudah terlalu terlambat untuk mengubah apapun. Sejuta kata, sejuta senyuman yang kuberikan pun hanya akan berarti perpisahan. Sekarang hujan sudah berhenti, sudah kudapatkan yang kurindukan… inilah saatnya.

Aku bangkit, tersenyum padanya sejenak untuk terakhir kali, lalu mengambil koper hitam di ruang tamu. Ia mengantarku sampai di pagar. Tak ada lagi senyuman, hanya matanya yang sepertinya bicara. Aku terlalu kacau bahkan untuk sekedar mengartikannya.

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan berbatu, sambil menendangi kerikil-kerikil yang menghalangi jalan. Belum apa-apa pikiranku sudah melayang lagi padanya. Kukira senyumnya telah mengangkat semua penyesalan, ternyata salah.

Hanya beberapa kalimat sederhana. Seandainya kalimat tadi kuucapkan lebih awal….

“….”

Samar-samar kudengar suaranya memanggil namaku. Aku berhenti, menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kudengar suara nyaring yang familiar, kemudian sesuatu membenturku keras. Aku terbang, terpelanting jauh. Kulihat langit kembali hujan, sebelum kemudian semuanya menjadi gelap. Ah, langit bernyanyi. Ini musikku, pengantar pergiku….

 

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 

Surat untuk Pria Takdir

Kepada pria yang ditakdirkan untukku.

Halo. Hari ini kotaku begitu cerah dan langitnya begitu biru. Bagaimana denganmu? Kamu tahu, saat ini aku sedang memikirkanmu. Mungkinkah kamu berada di kota yang sama denganku? Mungkinkah kita sedang mengamati langit yang sama? Mungkinkah kamu orang yang kukenal?

Apa kamu pernah, sekali saja, memikirkanku?

Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Percayakah kamu pada takdir? Aku percaya. Aku percaya kamu ada di suatu tempat, sedang dalam perjalananmu menemuiku. Kamu mungkin akan menghadapi banyak rintangan, kamu akan jenuh, lalu putus asa. Tapi kuharap kamu tidak berhenti berjalan. Karena ketahuilah, aku juga sedang dalam perjalananku, dan jika kamu dan aku sama-sama berjalan, akan semakin cepat kita bertemu.

Pria takdir, dalam perjalananku, aku akan menemui banyak lelaki yang salah. Dan akibat kebodohanku, aku akan menangis karena mereka. Maka kumohon saat aku bertemu denganmu nanti, jangan sekali-kali membuatku menangis. Sebab saat aku menangis karenamu, pada siapa lagi aku harus berharap?

Pria takdir, aku pun tahu, dalam perjalananmu kamu juga akan menemui banyak perempuan yang salah. Permohonanku hanya satu: jangan salah mengenali mereka sebagai aku! Sebab aku, meski hidupku akan sia-sia jika kehilanganmu, bisa bertahan dalam kesendirianku tanpamu. Tapi jangan kamu harap aku bisa melihatmu tidak bahagia bersama perempuan yang salah. Dan jika itu terjadi, aku hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Bukan, bukan itu yang kuinginkan.

 

Pria takdir, berkali-kali aku berharap bisa menemuimu, dalam mimpi sekalipun. Tapi kata takdir padaku, belum saatnya. Aku yang sekarang belum cukup baik untuk menemuimu. Tentu saja kamu tidak perlu khawatir. Perjalanan panjang akan mengubahku, mempercantik diri dan hatiku.

Maka dari itu, pria takdir. Tidak perlu terburu-buru kamu mencariku, pun aku tidak akan terburu-buru mencarimu. Karena saat waktunya tiba, takdir akan menunjukkan jalan pintasnya. Dan saat itu kamu tidak perlu bersusah payah. Cukup sedikit berusaha (sebagai bocoran: aku suka pria misterius) dan aku akan menyayangimu apa adanya.

Surat ini akan kupajang dalam blog-ku dan kusebarkan melalui twitter. Bukan apa-apa, pria takdirku. Aku hanya ingin kamu bisa membacanya, sengaja atau tidak sengaja. Supaya kamu tahu bahwa aku, wanita yang ditakdirkan untukmu, ada dan akan selalu ada.

 

Dari yang selalu menantimu, Aku.

 

 
1 Comment

Posted by on January 27, 2011 in surat

 

Kamu Tak Pernah Mengerti

Kamu duduk di lantai, sambil membereskan barang-barangmu. Aku melucu, kamu tertawa sekeras-kerasnya, mengabaikan penghuni rumah yang lain. Aku suka tawamu. Selalu kubilang tawamu mirip Ringo, tokoh komik kesayanganku. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Sudah lama sekali sejak aku harus absen melihat tawamu. Besok kamu pergi, ke negeri orang, menikmati hadiah kontes menyanyi yang kau menangkan itu. Ah, belum lagi nyanyianmu. Bagaimana hari-hariku tanpa alunan melodi yang selalu kamu senandungkan di tengah-tengah perbincangan makan siang kita?

Kamu tahu, tawamu hari ini terlihat lebih bersinar. Mendesakku untuk mengatakan sesuatu yang tersimpan sejak lama. Bahwa kamu bukan sekedar teman kecilku. Teman kecil macam apa yang selalu meneleponmu sebelum tidur, hanya untuk melucu sehingga bisa mendengar tawamu, lalu mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Lagi-lagi kamu tertawa. Aku tahu suatu saat aku harus mengatakannya. Mungkin sekarang.

“Diana….”

“Ya?”

“Tawamu seperti Ringo, tokoh komik kesayanganku.”

Lalu kamu tersenyum manis. Katamu aku sudah mengatakannya berjuta-juta kali. Lagi-lagi aku gagal mengatakannya. Mungkin bukan sekarang. Setidaknya tadi kamu tersenyum. Kamu tahu, aku suka tawamu lebih dari apapun. Tapi melihat senyummu rasanya seperti perompak yang menemukan harta karun. Ah, rasanya aku juga pernah mengatakan ini. Tapi kamu tak pernah mengerti.

Malam semakin larut dan aku harus pulang. Kubilang aku tak ingin pulang, tapi kamu malah tertawa dan bilang ibuku yang paranoid itu akan ketakuan setengah mati. Ya, kamu memang tak pernah mengerti.

Sebelum tidur aku meneleponmu seperti biasa. Kamu tertawa, katamu aku kan baru saja pulang dari rumahmu yang terletak persis di depan rumahku. Aku bilang padamu ini rutinitas, aneh rasanya kalau tidak dilakukan. Aku bohong. Aku hanya mau mendengar tawamu, yang berapa kali pun kudengar rasanya tak akan pernah cukup.

Malam ini berbeda. Aku keluar ke balkon, dan menyuruhmu keluar ke balkonmu. Balkon kita berhadapan, seperti di komik-komik romantis milik adikku. Dari sana aku bisa melihat wajahmu, walaupun samar karena gelap. Kamu tampak tertawa geli, menertawakan yang sedang kita lakukan. Seperti roman picisan katamu.

Dari balkon aku berikan isyarat padamu melalui gerakan tangan, “Aku cinta padamu.” Kamu tersenyum manis. Jantungku berdebar kencang. Kamu mengerti? Tapi kamu malah menggeleng dan tertawa. Gelap, katamu, tidak kelihatan. Aku tersenyum, menghela napas. Mungkin bukan sekarang.

Pagi harinya aku siap terlalu cepat. Aku menyeberang ke rumahmu, kamu masih bersiap. Aku bilang padamu, kita bertemu di bandara saja, lalu aku pergi secepat kilat. Kamu tahu, aku membeli bunga untukmu. Hahaha, hanya beberapa tangkai yang mampu kubeli. Tapi aku selipkan kartu ucapkan di antara beberapa tangkai itu, kutulisi dengan sepenuh hati, “Tak sabar menunggumu pulang. Aku menyayangimu.” Kuharap kamu mengerti.

Di bandara kamu berdiri, tampak memesona dengan terusan kuningmu. Ah, warna yang sama dengan bunga yang kubeli. Sudah kuduga, kita memang sehati. Aku menghampirimu, memberikan bunga padamu. Kamu tersenyum. Bunga bermekaran di sekitarku, seperti adegan di kartun-kartun kesayangan adikku yang kutonton tanpa sengaja.

Lalu entah dari mana muncullah lelaki itu. Kamu memanggil namanya sambil tertawa. Tawa manis yang tak pernah kulihat, dan pipimu merona. Tanganku terkepal ketika melihatnya memelukmu. Lalu tiba-tiba saja dia bilang cinta padamu, bertanya padamu apa mau menjadi kekasihnya. Sumpah ingin kutonjok saja wajahnya waktu itu. Tapi kemudian kulihat kamu tersenyum, senyummu berkilauan seperti permata, lalu kamu menjawab iya.

Kamu dan dia berangkulan, aku berusaha menahan tinjuku. Kalian, masih berangkulan, menghampiriku. Kamu mengenalkan aku padanya.

“Johan, ini Dito. Pacarku.”

Kini aku harus berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan kesadaran.

Kamu tiba-tiba teringat pada bunga pemberianku. Kamu mengambil kartu ucapan yang terselip, lalu membacanya. Kamu tersenyum manis, tidak semanis yang tadi kamu berikan padanya, tapi tetap membuatku berdebar sejenak. Lalu kamu bilang aku sangat manis, kamu bilang kamu juga sangat menyayangiku dan akan sangat merindukanku. Tapi tanganmu menggandeng mesra tangannya.

Kamu melihat jam, terburu-buru melepas gandengan tanganmu padanya dan berkata harus pergi sekarang. Kamu merangkulku lama. Sekali lagi kamu bilang menyayangiku, lalu pergi dengan senyuman yang sangat kusukai. Tapi kamu tetap tak pernah mengerti.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2011 in cerpen

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.