
Aku mencintaimu seperti awan, bukan pelangi. Bukan seperti pelangi yang muncul setelah hujan, karena spektrum dan pembiasan cahaya. Tidak. Cintaku tidak serumit tujuh warna pelangi, ia sesederhana awan.
Tapi tentu saja, seperti kebanyakan orang lainnya, kamu lebih memilih pelangi daripada awan. Masih kuingat jelas percakapan kita, sejelas aku mengingat aromamu malam itu.
“Kurasa kita nggak cocok,” katamu akhirnya setelah keheningan panjang yang kita lalui sejak kamu datang.
“Maksudmu?” Aku tidak bodoh. Aku tahu arah pembicaraanmu, hanya nggak mau menerimanya.
“Aku… nggak lagi merasa jatuh cinta kepadamu. Nggak ada lagi debaran yang dulu. Kurasa kamu juga merasa begitu.”
Aku terdiam, lama. Tidak jatuh cinta kepadamu? Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperdengarkan detak jantungku setiap bersamamu. Tidak berdebar-debar seperti orang yang dimabuk cinta, ini debaran jantung yang merasa nyaman mencintai.
Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperlihatkan semilir angin di hatiku. Bukan bunga-bunga seperti orang yang kasmaran, di hatiku berdesir angin yang membawa keteduhan. Setiap bersamamu.
Kalau saja bisa, ingin kukatakan padamu. Aku tidak jatuh cinta padamu, aku mantap mencintaimu! Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya saat aku tahu akan berujung ke mana percakapan ini. Aku hanya bisa menggeleng merespon perkataanmu.
“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu merasa nyaman?”
Giliran kamu yang menggeleng. “Kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Aku rasa kita sebaiknya…,” kamu berhenti sejenak dan mengambil napas, “kita sebaiknya putus.”
Putus. Kalau saja bisa, ingin rasanya kuperlihatkan serpihan hatiku padamu.
“Kenapa? Ini gara-gara dia yang kulihat bersamamu kemarin, kan?” Ya, kemarin aku melihatmu bersamanya. Si pelangi. Begitu menawan dan memesona, begitu mencuri perhatian.
Kamu hendak menjawab, namun segera mengunci mulutmu sebelum keluar sepatah kata pun.
Kamu nggak perlu menjawabnya, karena aku tahu kamu lebih menyukai pelangi daripada awan. Pelangi yang berwarna-warni, enak dilihat, aduhai, dan dipuja orang banyak. Tentu saja kamu lebih memilih dia si pelangi daripada aku si awan.
Tentu saja kamu mencari debaran itu, gembira yang bergelora ketika melihat pelangi. Sementara yang bisa ditawarkan oleh awan hanyalah keteduhan. Bukan itu yang kamu cari.
“Kalau begitu kita putus,” kataku sambil menahan sakit di tenggorokan. Seperti ada yang mencubitku di sana. Rasa yang selalu muncul tiap kali aku menahan tangis.
Kalau saja bisa, ingin rasanya kutunjukkan ruang kosong di tubuhku. Dulu ada hati di sana.
***
Hari ini, beberapa bulan setelah malam itu, beberapa bulan setelah kamu dan si pelangi jalan bersama, kamu meneleponku.
“Halo?” Masih suaramu yang dulu. Tiba-tiba saja rasa kangen yang luar biasa memenuhi rongga dadaku. Ya, rongga dadaku. Dulu sih, ada hati di sana.
“Halo juga. Ini kamu kan?” tanyaku. Kamu tertawa.
“Hahaha. Kamu? Kamu siapa? Kamu kan bisa berarti siapa saja.”
“Ya, tapi aku tahu kalau ini pasti kamu. Kamu ya kamu!” kataku. Aku merasakannya, kamu tersenyum di seberang sana.
“Kamu apa kabar?”
“Hahaha. Masih saja suka berbasa-basi. Ada apa sih?”
“Iiih, aku serius pengin tahu kabar kamu, tahu!” protesmu. “Tapi yaaah, aku menelepon memang ada maksud lain.”
Hening sejenak. Aku menunggumu berbicara. Firasatku mengatakan ini tentang si pelangi.
“Aku… kangen kamu.”
JEGER! Seperti disambar petir di siang bolong. Kangen padaku? Ada apa? Bagaimana dengan si pelangi?
“Hah?” Hanya itu yang tercetus dari mulutku.
“Kok ‘hah’ sih? Aku baru saja bilang kangen kamu, tahu! Dasar aneh.”
“Setelah berbulan-bulan menghilang, tiba-tiba kamu menelepon dan bilang kangen padaku? Kamu yang aneh!” Aku tahu kamu bercanda. Tapi sebal rasanya disebut aneh olehmu.
“Hahaha iya juga ya. Tapi aku memang kangen sama kamu. Sejak berhari-hari yang lalu. Kutahan mati-matian karena kupikir kamu… benci padaku. Tapi hari ini kuputuskan untuk meneleponmu. Aku nggak tahan lagi, terlalu kangen kamu.”
“Bagaimana dengan dia… pacarmu?”
“Sudah putus,” jawabmu mantap.
“Putus? Ada apa? Kupikir kamu bahagia bersamanya. Kupikir akhirnya kamu mendapatkan debaran itu lagi.”
“Ya, waktu bersamanya aku merasa lebih bahagia dari siapapun juga. Tapi dia nggak selalu ada untukku, aku nggak selalu bisa bersamanya.”
Tentu saja, karena dia itu pelangi! Pelangi tidak selalu ada!
“Dan belakangan ini kusadari, bukan debaran yang kucari. Debaran hanya untuk mereka yang dimabuk cinta. Aku tidak butuh mabuk, aku butuh cinta yang nyaman. Seperti saat bersamamu dulu.”
Tentu saja, karena aku itu awan!
“Aku ingin kembali bersamamu,” katamu lagi, “aku meneleponmu untuk mengatakan ini.”
Aku tersenyum miris. Tidak kuduga kamu meninggalkan pelangi demi awan.
“Aku….” Aku menghela napas dan menghembuskannya kuat-kuat. “Maaf, aku nggak bisa kembali bersamamu.”
“Kenapa? Kamu sudah punya pacar baru?” tanyamu. Aku menggeleng kuat-kuat. Lupa kalau kamu nggak bisa melihatku.
“Bukan. Bukan karena itu.”
“Lantas kenapa?”
Aku hanya diam. Lama sekali hingga kamu memutuskan bahwa keputusanku sudah bulat, dan kamu harus menyerah.
“Ah, ya. Tentu saja kamu nggak mencintaiku lagi setelah yang kuperbuat padamu. Kalau begitu, sampai nanti. Aku menyayangimu.”
Kamu menutup telepon.
Yang kamu tidak tahu, debaran hatiku masih sama seperti yang dulu. Desiran angin itu masih ada di hatiku—atau di rongga kosong tempat dulu hatiku berada. Aku masih mencintaimu.
Tapi kurasa kamu bukan langit tempat awan seharusnya berada. Kamu mungkin pekat malam yang menutupi keindahan awan, atau kamu mungkin matahari yang tertutupi awan. Entahlah. Yang kutahu pasti sejak malam itu, bukan kamu tempat hatiku seharusnya berlabuh. Meskipun kini aku masih mencintaimu.